Pariwisata Dunia Yang Terdapat Dalam Literatur

Pariwisata Dunia Yang Terdapat Dalam Literatur – Belum banyak tulisan sengaja yang dibuat untuk meninjau perkembangan dari riset kepariwisataan yang ada di dunia, terutama yang dipublikasikan di Indonesia, baik yang ditulis dalam Bahasa Indonesia maupun hasil terjemahan dari bahasa lain. Begitu juga halnya dengan jurnal, meski telah banyak dipublikasikan di Indonesia, akan tetapi belum ditemukan satu jurnal yang membahas perkembangan riset kepariwisataan.

Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini sengaja untuk mengangkat dinamika riset kepariwisataan di dunia. Harapannya agar bisa menjadi dasar serta mendorong penulisan yang lebih mendalam tentang topik serupa di masa mendatang. idn slot

Penelitian kepariwisataan baru berkembang pada awal abad yang ke 20 di Eropa. Sampai tahun 1930 an, pariwisata masih dicermati dan dikaji melalui kacamata ilmu-ilmu tradisional lainnya yang lebih tua, lebih berkembang, dan diakui masyarakat luas, seperti ilmu ekonomi, ilmu sosial, ilmu budaya, ilmu geografi, dan juga lain sebagainya.

Baru sejak tahun 1940-an, pariwisata diupayakan oleh sejumlah akademisi dan peneliti untuk diajarkan di universitas-universitas, yang melahirkan definisi-definisi dan juga teori-teori dari kepariwisataan serta berbagai penelitian kepariwisataan. Upaya tersebut baru membuahkan hasil pada awal milenium ini, dengan ditetapkannya pariwisata sebagai suatu keilmuan mandiri.

Dari lima literatur yang dipakai untuk penulisan ini, semuanya diterbitkan dalam periode waktu relatif baru, yakni antara 1989 hingga 2006. Hal tersebut disebabkan masih relatif barunya serta masih langkanya sumber-sumber tertulis yang mengangkat tentang dinamika riset kepariwisataan di dunia. Selain itu, data mengenai dinamika riset kepariwisataan masih sangat terbatas.

Pariwisata Dunia Dalam Literatur

Dibandingkan dengan bahasan-bahasan yang lain, seperti aspek-aspek perencanaan dan juga pengelolaan kepariwisataan, bahasan mengenai riset kepariwisataan masih sangat kecil lingkupnya di dalam buku-buku teks mengenai kepariwisataan. Perbedaan tahun penerbitan buku-buku yang dipakai untuk tulisan ini tak mencerminkan perkembangan riset dari kepariwisataan secara kronologis. Masing-masing buku ini menjelaskan periode waktu dan bahasan mengenai riset kepariwisataan masing-masing.

1. Tahun 1989 (Tourism Development-Second Edition (Pearce, Addison Wesley Longman Limited)

Buku ini diterbitkan di Inggris sehingga pemikiran-pemikiran dan studi-studi kasusnya banyak mencerminkan tentang apa yang terjadi di Inggris. Sekedar catatan, kepariwisataan modern lahir pada pertama kali di Inggris pada abad yang ke-16 dengan lahirnya the Grand Tourserta dilanjutkan oleh tur terorganisir (organized tour) yang digagas Thomas Cook pada abad yang ke-19. Hal tersebut menjadikan Inggris sebagai salah satu negara kiblat riset dan edukasi kepariwisataan terkemuka di dunia.

Beberapa point penting dari buku ini adalah:

– Pariwisata semakin berkembang menjadi sebuah topik penelitian bagi para peneliti dari berbagai disiplin ilmu selama dua puluh tahun terakhir (1970-an dan 1980-an), namun belum diterima secara luas sebagai sebuah ilmu tersendiri. Pariwisata dipandang sebagai sebuah topik yang merupakan bagian dari ilmu geografi, ekonomi, manajemen, sosiologi, antropologi, dan lain-lain.

– Pearce (1979) mengidentifikasi enam area sebagai topik penelitian pariwisata dari ilmu geografi, yaitu pola spasial sediaan (supply spatial pattern), pola spasial permintaan (demand spatial pattern), geografi resor (resort geography), analisis pergerakan dan alur wisatawan tourist movement and flow analysis, dampak pariwisata (tourism impacts), dan model kawasan wisatawan (tourist destination model). Di tahun-tahun berikutnya (awal 1980-an), muncul topik-topik lebih variatif di sejumlah negara yang ada di dunia.

– Dalam ilmu ekonomi, manajemen, dan juga pemasaran, suatu penelitian yang berhubungan dengan kepariwisataan muncul lebih awal dibanding yang terjadi dalam ilmu geografi tahun 1970-an, akan tetapi dalam dekade berikut kemunculannya tidak menunjukkan perubahan signifikan. Kontribusi terhadap penelitian kepariwisataan dari sisi ekonomi dilakukan oleh Gray (1982), yang mengangkat topik pengukuran, analisis biaya-manfaat, alokasi sumber daya, dan juga pemanfaatan barang-barang publik dalam pengembangan kepariwisataan.

– Dalam sosiologi kepariwisataan, Cohen tahun 1984 mengidentifikasi terdapat delapan pandangan sosiologis terhadap pariwisata, yaitu adalah pariwisata sebagai sebuah bidang jasa yang dikomersialkan, perjalanan yang didemokratisasikan, sebuah bentuk kegiatan waktu luang yang modern, sebuah variasi modern dari ziarah tradisional, adalah sebuah pengungkapan tema-tema kebudayaan dasar, dan sebuah proses bersifat akulturatif, sebuah bentuk dari hubungan-hubungan etnis, dan sebuah bentuk neokolonisasi.

Cohen juga membagi empat isu prinsip, yaitu wisatawan, hubungan antara wisatawan dan penduduk lokal, struktur dan juga pemfungsian sistem kepariwisataan, dan konsekuensi pariwisata. Menurut Graburn (1983), para ahli antropologi telah berfokus pada studi tentang dampak-dampak pariwisata terhadap penduduk lokal dan juga terhadap studi tentamg wisatawan itu sendiri.

– Dari semua penelitian di tahun 1970an dan juga tahun1980an, topik mengenai dampak pariwisata terhadap berbagai aspek sesuai dengan latar belakang peneliti ialah yang paling banyak muncul.

2. Pada tahun 1995 (Tourism Analysis-A Handbook (Smith, Addison Wesley Longman Limited)

Sama seperti buku yang pertama, buku ini juga diterbitkan di Inggris. Dalam salah satu sub-bab-nya, buku ini membahas sedikit mengenai riset kepariwisataan, dengan beberapa point sebagai berikut:

– Melihat riset pariwisata lewat berbagai macam perspektif, yakni human experience, social behavior, geographic phenomenon, resources, business, industry, dan juga intellectual debate.

– Melihat isu-isu kontemporer di dalam riset kepariwisataan.

– Meninjau tantangan-tantangan di dalam riset kepariwisataan, seperti kurangnya pengukuran yang bisa dipercaya untuk menjelaskan ukuran dan dampak pariwisata, keberagaman industri pariwisata sehingga menimbulkan pertanyaan apakah pariwisata ialah sebuah industri tersendiri atau gabungan atas industri-industri terkait, kompleksitas spasial dan wilayah, dan juga tingginya tingkat fragmentasi. 

3. Tahun 2004 (Tourism Management 3rd Edition (Leiper, Pearson Education Australia)

Buku yang diterbitkan di Australia ini ditulis oleh Leiper, salah satu penulis ternama pada bidang kepariwisataan yang terkenal dengan model Sistem Pariwisata dari sisi spasial-nya. Buku ini pada umumnya membahas mengenai manajemen kepariwisataan yang bersifat komprehensif. Riset kepariwisataan ialah satu topik yang dibahas dalam salah satu sub babnya, dengan point-point sebagai berikut, yaitu:

– Riset kepariwisataan dimulai 90 tahun yang lalu.

– Sekitar pada tahun 1910, Picard dan juga von Scullard memerhatikan dampak ekonomi yang dihasilkan wisatawan, yang kebanyakan berasal dari Jerman dan Inggris, di Austria dan Swis dan mulai melakukan penelitian.

– Pada 1930-an, sekelompok akademisi membentuk tim pertama yang tertarik untuk mempelajari pariwisata dari berbagai sudut pandang, seperti sosiologi, antropologi, dan ekonomi. Belum ada studi tentang gambaran keseluruhan, namun apabila digabungkan, penelitian-penelitian itu menghasilkan suatu pandangan yang komprehensif dan menyeluruh.

– Tahun 1940, didasari keyakinan dan keinginan untuk menjadikan pariwisata sebagai sebuah subjek di universitas-universitas, mendorong dua profesor di Universitas Berne untuk menciptakan definisi pariwisata secara formal.

– Tahun 1962, the Journal of Travel Research diterbitkan Universitas Boulder, Colorado, AS, sebagai yang pertama dalam hal riset berbasis statistik.

– Pada tahun 1960-an, sebuah program edukasi dan riset pariwisata diluncurkan di Universitas Michigan, AS, di mana Robert McIntosh menulis teks utama pertama pada tahun 1972.

– Tahun 1973, Jafar-Jafari mendirikan Annals of Tourism Research di Universitas Wisconsin-Stout, yang menggabungkan beberapa macam disiplin ilmu.

– Di awal tahun 1970-an, Universitas Surrey di Inggris merupakan pionir dalam program studi pariwisata. Selain itu, universitas Surrey ini juga mempublikasikan buku teks yang berpengaruh berjudul Tourism Management.

– Tiga jurnal yang disebut di atas, Journal of Travel Research, Annals of Tourism Research, dan Tourism Management, saat ini dianggap sebagai tiga riset pariwisata utama di dunia.

– Di tahun 1980-an dan tahun 1990-an pariwisata telah menjadi tema riset dan pendidikan di banyak universitas dan kampus di seluruh dunia. Selain itu, banyak juga lembaga kursus yang menyediakan pendidikan keterampilan keterampilan.

– Buku ini juga menyebutkan mengenai empat sumber bagi sebuah pembelajaran pariwisata, yaitu pengalaman seorang layperson, pengalaman kerja, pelatihan keterampilan, dan riset dan edukasi akademis. Buku tersebut juga menyebutkan karakteristik keempat sumber itu.

– Buku ini juga menyebutkan mengenai tujuan dari riset dan pendidikan pariwisata.

4. Tahun 2006 (Tourism A Modern Synthesis (Page and Connell, Thomson, London)

Seperti buku ketiga di atas, buku ini juga diterbitkan di Australia dan pada umumnya membahas tentang manajemen kepariwisataan yang bersifat komprehensif. Riset kepariwisataan adalah satu topik yang dibahas dalam salah satu sub-bab-nya, dengan point-point sebagai berikut:

– Pariwisata saat ini sudah dianggap sebagai sebuah subjek studi akademik secara serius.

– Sebelum tahun 1980-an, studi pariwisata dipandang oleh banyak akademisi dan analis sebagai suatu subjek yang dangkal (superficial) dan kurang berharga, tidak seperti subjek-subjek lain seperti sejarah, ekonomi, dan politik. Pariwisata sering sekali dianggap sebagai sebuah subjek pada tingkatan praktisi yang diajarkan untuk pada craft level.

– Pada 1990-an, hal tersebut berubah. Pada saat ini, pariwisata diajarkan di banyak sekolah, kampus, politeknik, dan juga universitas yang ada di seluruh dunia, dengan berbagai kualifikasi mulai darilevel sertifikat hingga PhD, dan menjadi dewasa sebagai sebuah subyek.

– Buku-buku teks yang telah membantu pendewasaan pariwisata saat ini kebanyakan ditulis dan diterbitkan pada tahun 1980-an hingga awal 1990-an (walau ada sejumlah kecil di tahun 1970-an dan di awal milenium).

Pariwisata Dunia Dalam Literatur 1

– Buku ini juga menyebutkan mengenai Annals of Tourism Research, Tourism Management, dan Journal of Travel Research yang memunculkan pariwisata sebagai sebuah subjek yang serius di tingkat vokasi, sarjana, dan juga pascasarjana yang ada di seluruh dunia.

– Pada saat ini, edukasi pariwisata dilengkapi dengan sebuah kemajuan teknologi. Buku-buku teks pariwisata disebutkan sebagai media penting untuk diskusi tentang pariwisata, konsep, dan pengembangannya.

– Buku-buku teks pariwisata yang tersedia ditulis melalui persepsi Amerika (Mathieson and Wall, 1982; Mill and Morrison, 1985; Murphy, 1985), Eropa (Foster, 1985; Cooper et al. 2005) atau Australasia (Pearce, 1995; Hall at al, 2003) atau Asia (Hall and Page, 2000) dan negara-negara berkembang atau masyarakat asli (Hall dan Page, 1996).

5. Tahun 2006 (Tourism Management–Third Edition (Weaver and Lawton, 2006)

Buku ini diterbitkan di Inggris dan pada umumnya membahas mengenai manajemen kepariwisataan yang bersifat komprehensif. Riset kepariwisataan adalah satu topik yang dibahas dalam salah satu sub-bab dengan point-point sebagai berikut:

– Pada umumnya, buku ini melihat hambatan-hambatan perkembangan pariwisata sebagai sebuah ilmu, indikasi perkembangannya, urutan platform pariwisata, dan pendidikan tinggi.

– Hambatan-hambatan perkembangan pariwisata mengulas tentang pariwisata yang dipandang sebagai sebuah aktifitas trivial (dangkal), pariwisata skala besar sebagai kegiatan kekinian, pariwisata yang dipandang sebagai studi vokasi, kurangnya definisi yang jelas dan data yang bisa dipercaya, kurangnya teori-teori asli atau tradisi akademis yang kuat.

– Indikasi perkembangan mengulas mengenai perkembangan pariwisata dalam sektor universitas, perkembangan jumlah jurnal-jurnal referensi.

– Urutan platform pariwisata meninjau advocacy, cautionary, adaptancy, dan juga knowledge-based.

– Menjelaskan bagaimana pariwisata sering termarjinalisasi dari disiplin-disiplin lainnya di tahun 1980an, namun kini semakin (walau belum sepenuhnya) dianggap sebagai sebuah keilmuan yang penting.

Virus Corona ( COVID-19) Menurut Literatur

Virus Corona ( COVID-19) Menurut Literatur – Virus 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV) atau yang lebih dikenal dengan nama virus Corona ialah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus Corona ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir bulan Desember 2019. Virus Corona ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara.

Coronavirus ialah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus corona ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Akan tetapi virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti pneumonia, Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan juga Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). bet88

Gejala Virus Corona

Infeksi virus Corona dapat menyebabkan penderitanya mengalami penyakit gejala flu, seperti hidung berair dan meler, sakit kepala, batuk, nyeri tenggorokan, dan juga demam, atau gejala penyakit infeksi pernapasan berat, seperti demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan juga nyeri dada.

Akan tetapi, secara umum terdapat 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:

– Demam

– Batuk

– Sesak napas.

Menurut penelitian, gejala infeksi virus Corona muncul dalam 2 hari sampai dengan 2 minggu setelah paparan virus Corona.

Kapan harus ke dokter?

Segera ke dokter kalau Anda mengalami atau menemukan gejala virus Corona pada orang lain seperti yang disebutkan di atas, terutama kalau gejala muncul 2 minggu setelah kembali dari Cina atau negara lain yang positif terinfeksi. Orang yang dicurigai terinfeksi virus Corona harus segera untuk dirujuk ke IGD rumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Virus Corona Menurut Literatur

Penyebab Virus Corona

Infeksi dari virus Corona disebabkan oleh coronavirus, yaitu kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Pada sebagian besar kasus, corona virus hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai sedang, seperti flu. Akan tetapi, virus ini juga dapat menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti MERS, SARS, dan juga pneumonia.

Ada dugaan bahwa virus Corona pada awalnya ditularkan dari hewan ke manusia. Akan tetapi kemudian diketahui bahwa coronavirus juga menular dari manusia ke manusia.

Seseorang bisa terinfeksi coronavirus melalui berbagai cara, yaitu:

– Tak sengaja menghirup percikan ludah dari bersin atau batuk dari penderita virus Corona.

– Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu, sesudah menyentuh benda yang terkena air liur penderita.

– Kontak jarak dekat dengan penderita, seperti bersentuhan atau juga berjabat tangan.

Virus Corona bisa menginfeksi siapa saja, tetapi lebih berisiko menyerang orang tua, serta orang yang sedang sakit atau memiliki kekebalan tubuh lemah.

Munculnya coronavirus baru di Wuhan, Cina, memberi tahu kita (lagi), bahwa pandemi selalu terjadi tanpa ada nya pemberitahuan. Kita tahu itu akan terjadi. Hanya saja, kita tidak pernah tahu apa yang akan menjadi pandemi, di mana dan kapan terjadi.

Sejarah pernah mencatat pandemi hebat seperti black death, Spanish flu, Asian flu, pandemi influenza H1N1/2009, dan bahkan Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Itulah yang terjadi dengan coronavirus baru (novel coronavirus, disingkat nCoV) di Wuhan, China sejak Desember 2019. Sebagai ilmuwan dengan salah satu prinsip utama sains ialah transparansi, komunitas dunia harus memuji rilis cepat informasi genom virus dan data klinis oleh ilmuwan dan pemerintah Cina.

Itu meningkatkan transparansi pelaporan penyakit dan juga berbagi data. Hal tersebut sangat penting untuk membatasi penyebaran virus yang baru muncul ini ke bagian lain dunia (Liu dan Saif, 2020). Tak ada ilmuwan Cina yang berbicara mengenai hak kedaulatan nasional untuk isolat dan informasi, seperti yang sering kita dengar dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Fenomena puncak gunung es tampaknya berlaku untuk total kasus NCoV di Cina dan dunia pada saat ini. Jumlah kasus yang dipublikasikan bisa hanyalah puncak gunung es (a tip of an iceberg). Dalam memprediksi jumlah kasus yang dilaporkan, Nishiura dan rekan percaya bahwa jumlah kasus pada 24 Januari 2020 kemungkinan merupakan perkiraan yang terlalu rendah (Nishiura et al., 2020).

Mereka menghitung perkiraan kejadian kumulatif di China lebih dari 5.500 sampai jangka waktu itu. Ada indikasi kuat bahwa paparan yang tidak dilacak, selain yang terjadi di pasar makanan laut yang terkait secara epidemiologis di Wuhan, telah terjadi (Nishiura et al., 2020).

Penularan virus adalah dari manusia ke manusia. Perkiraan tingkat kematian akan menyerupai SARS 2002. Wu et al. menyimpulkan bahwa Informasi tentang kasus-kasus yang dilaporkan secara kuat mengindikasikan penyebaran dari manusia ke manusia,

dan informasi terbaru semakin menunjukkan penularan dari manusia ke manusia yang berkelanjutan (Wu et al., 2020). Sementara keseluruhan profil keparahan di antara kasus dapat berubah karena kasus yang lebih ringan diidentifikasi, mereka memperkirakan risiko kematian di antara kasus yang dirawat di rumah sakit sebesar 14 persen (Wu et al., 2020).

Dinamika transmisi awal di Wuhan menunjukan faktor risiko kuat paparan dengan Pasar Grosir Makanan Laut Huanan yang menjual berbagai hasil laut dan peternakan dan hidupan liar. Sebagian besar kasus terkait dengan Pasar Grosir Makanan Laut Huanan (Li et al., 2020). Berbagai data klinis menunjukkan usia rata-rata adalah 59 tahun dan 56 persen adalah laki-laki (Li et al., 2020).

Masa inkubasi rata-rata adalah 5,2 hari. Angka reproduksi dasar (R0) diperkirakan 2.2 (Li et al., 2020).Virus nCoV adalah virus baru. Identitas nukleotida untuk kelelawar SARS-seperti-CoVZXC21 dan manusia SARS-CoV adalah hanya 89 persen dan 82 persen.

Angka ini terlalu rendah jika dianggap sebagai turunan langsung dua virus itu. Di samping itu, NCoV ini tampaknya sudah mengalami rekombinasi dengan virus yang tidak dikenal. Pohon-pohon filogenetik orf1a / b mereka, Spike, Envelope,

Membrane dan Nucleoprotein juga berkerumun erat dengan pohon-pohon koronavirus SARS kelelawar, musang dan manusia. Namun, subdomain eksternal domain pengikatan reseptor Spike pada 2019-nCoV hanya menunjukkan hanya 40 persen identitas asam amino dengan coronavirus terkait-SARS lainnya (Chan et al., 2020).

Infeksi 2019-nCoV menyebabkan kelompok penyakit pernafasan yang parah mirip dengan coronavirus sindrom pernafasan akut yang parah dan dikaitkan dengan masuknya ICU dan mortalitas tinggi (Huang et al., 2020).

Virus Corona Menurut Literatur 1

Karakteristik epidemiologis, klinis, laboratorium, dan radiologis serta pengobatan dan hasil klinis adalah sebagai berikut; Sebagian besar pasien yang terinfeksi adalah laki-laki (73 persen); kurang dari setengahnya memiliki penyakit yang mendasarinya (32 persen), termasuk diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.

Usia rata-rata pasien yang dikonfirmasi adalah 49,0 tahun. Sebanyak 66 persen dari pasien sudah terpapar ke pasar makanan laut Huanan. Gejala umum pada awal penyakit ialah demam (98 persen), batuk (76 persen), dan mialgia atau kelelahan (44 persen).

Dispnea berkembang pada 55 persen pasien (waktu median dari onset penyakit menjadi dispnea 8 hari). Sebanyak 26 (63 persen) dari 41 pasien juga menderita limfopenia. Semua 41 pasien mempunyai pneumonia dengan temuan abnormal pada CT dada.

Kematian terjadi pada orang tua. Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan perincian 17 kematian pertama hingga 24 malam 22 Januari 2020. Kematian itu mencakup 13 pria dan 4 wanita.

Usia rata-rata kematian adalah 75 (kisaran 48-89) tahun. Demam (64,7 persen) dan batuk (52,9 persen) adalah gejala pertama yang paling umum dalam kematian. Rata-rata hari dari gejala pertama hingga kematian adalah 14,0 (kisaran 6-41) hari, dan cenderung lebih pendek di antara orang-orang berusia 70 tahun atau lebih (Wang et al., 2020).

Inilah Wisata Literatur Yang Terdapat Di Dunia

Inilah Wisata Literatur Yang Terdapat Di Dunia – Istilah buku sebagai jendela dunia memang benar adanya, sebab hanya dengan membaca kita dapat mengetahui segala sesuatu yang menakjubkan tentang dunia luar. Buku juga bisa membawa Anda ke tempat-tempat yang baru dan menarik, bahkan dunia yang sama sekali baru.

Di Hari Buku Dunia yang jatuh pada tanggal 23 Maret 2019 kali ini, Agoda akan membawa wisatawan dalam suatu perjalanan wisata literatur ke kota asal beberapa penulis favorit Anda, di mana beberapa di antara kota-kota tersebut sudah mengilhami karya-karya mereka yang paling signifikan. slot online

Untuk liburan Anda berikutnya, lacak asal usul beberapa penulis favorit Anda dengan mampir ke kota asal mereka, di mana beberapa di antara kota-kota tersebut telah mengilhami karya-karya mereka yang paling signifikan.

Berikut ini adalah beberapa tempat di Asia yang harus dikunjungi oleh para pencinta buku:

1. Kobe, Jepang

Pahlawan Sastra: Haruki Murakami hasil Karya Terkenal: “Kafka on the Shore” dan “1Q84” terbitan Shinchosha. Dan Objek Wisata: Kuil Ikuta, Arima Onsen, Jembatan Akashi-Kaikyo.

Wisata Literatur Dunia

Murakami dibesarkan di Kobe, menjadi latar beberapa kisahnya, seperti novel debutnya “Hear the Wind Sing”. Karya Murakami memiliki elemen surealis, seringkali tema melankolis dalam beberapa hal, yang mencerminkan keindahan, menenteramkan yang dapat ditemukan di banyak kuil yang hening dan pemandangan alam yang menakjubkan di kota kecil yang berada di tepi laut ini. Rasakan sisi minimalis dari Kobe yang meneduhkan ketika Anda menginap di Arimakoyado Hataya Ryokan.

2. Camarines Norte, Filipina

Pahlawan Sastra yaitu Ricky Lee dengan Karya Terkenal: “Para kay B” terbitan Philippine Writers Studio Foundation. Dan Objek Wisata Wajib: Kepulauan Calaguas, Pulau Apuao Grande, Pantai Bagasbas.

Di luar novelnya “Para kay B,” karya-karya Ricky Lee mencakup penulisan naskah film dan juga naskah drama. Dia sudah bekerja sama dengan beberapa sutradara yang ada di Filipina yang disegani seperti Lino Brocka dan Ishmael Bernal, dan bahkan sudah menerbitkan sebuah buku tentang penulisan skenario yang berjudul “Trip to Quiapo”, yang sejak diluncurkan sudah menjadi bahan ajar utama untuk perguruan dan sekolah tinggi ilmu komunikasi di Filipina. Kunjungi kota kelahiran Lee di Camarines Norte yang berada di pusat Bicol, Filipina dan juga nikmati pantai-pantainya yang indah seperti yang terdapat di Pulau Apuao Grande dan gugusan pulau Calaguas. Tetap nyaman dengan menjadikan One Platinum Hotel sebagai basis Anda pada saat berada di area tersebut.

3. Pulau Belitung, Indonesia

Pahlawan Sastra yaitu Andrea Hirata dengan Karya Terkenal: Seri “Laskar Pelangi”. Dan Objek Wisata Wajib dikunjungi: Pantai Tanjung Kelayang, Museum Kata Andrea Hirata, Rumah Tradisional Belitung.

Novel terlaris karya dari Andrea Hirata, “Laskar Pelangi,” membawa kita kembali pada masa kecilnya dan juga perjuangan yang dihadapinya dalam mengejar mimpinya dari kota asalnya, Pulau Belitung. Mampirlah di Museum Kata Andrea Hirata yang penuh dengan warna, yang adalah sebuah museum sastra yang didirikan oleh Hirata pada tahun 2010 untuk menginspirasi orang untuk mengejar impian mereka. Jelajahi pulau yang menginspirasi kisah Hirata maka Anda akan menemukan pantai pasir putih yang indah dan perairan biru yang jernih. Habiskan malam Anda di Arumdalu Private Resort yang ada di Tanjung Pandan, Belitung.

4. New York, Amerika Serikat

Pahlawan Sastra yaitu Jenny Han dengan Karya Terkenal: “To All the Boys I’ve Loved Before” terbitan Simon dan Schuster. Dan Objek Wisata Wajib: Empire State Building, Patung Liberty, Jembatan Brooklyn, Broadway

Walaupun Han pada awalnya berasal dari Virginia, masa waktu yang dihabiskannya di New York membentuk kariernya sebagai penulis fiksi dewasa muda. Menginaplah di apartemen Jun New York Midtown III yang nyaman maka Anda akan merasa seperti berada di rumah sendiri saat Anda beristirahat sejenak dari perjalanan wisata Anda.

5. Aracataca, Kolombia

Pahlawan Sastra yaitu Gabriel García Márquez dengan Karya Terkenalnya: “One Hundred Years of Solitude” terbitan HarperCollins, “Love in the Time of Cholera” terbitan Penguin Classics. Juga Objek Wisata Wajib: Casa Museo dan Casa del Telegrafista

Kota Aracataca dibangun pada sepanjang sungai dengan nama yang sama dan adalah kota kelahiran pemenang Penghargaan Nobel Kesusastraan Gabriel García Márquez. Desa Macondo di dalam novel terkenal García Márquez, “One Hundred Years of Solitude” adalah ilustrasi dari Aracataca. Jelajahi rumah masa kecil dari García Márquez yang direkonstruksi menjadi museum dan Casa del Telegrafista pada saat berada di Aracataca, lalu beristirahatlah di Agoda Homes yang menawan di Parque Los Novios di Santa Marta, Magdalena, dimana Anda dapat mengunjungi Tayrona National Natural Park Kolombia yang terkenal.

6. Edinburgh, Skotlandia

Pahlawan Sastra: J.K. Rowling dengan Karya Terkenal: Seri “Harry Potter” terbitan Bloomsbury. Dan Objek Wisata Wajib: Kastil Edinburgh, The Royal Botanic Gardens, Dynamic Earth, Underground Edinburgh, The Scotch Whisky Experience

Potterhead, berkumpullah! Walaupun Rowling lahir di Yates, Inggris, ia menulis sebagian besar buku Harry Potter semasa hidupnya di Edinburgh. Kunjungi kafe-kafe tempat dia dikatakan untuk menghabiskan waktunya untuk menulis, dan bermalamlah di Radisson Collection Hotel, Royal Mile Edinburgh yang trendi.

7. Florence, Italia

Pahlawan Sastra yaitu Dante Alighieri dengan Karya Terkenal: “The Divine Comedy” dan “Vita Nuova” terbitan Penguin Classics. Objek Wisata Wajib: Gereja Santa Margherita dei Cerchi (gereja Dante), Ponte Vecchio, Piazza della Signoria dan Loggia dei Lanzi

Dianggap sebagai tempat kelahiran Renaisans, Florence ialah ibu kota budaya Italia, dan tempat di mana penyair Dante bertemu dengan cinta dalam hidupnya, Beatrice. Beatrice sudah menginspirasi beberapa karya terbesar Dante termasuk “Vita Nuova” dan “The Divine Comedy”. Jelajahi Kota Tuscany yang romantis ini, dan mungkin Anda juga bisa menemukan cinta Anda! Domux Home Repubblica menawarkan sebuah akomodasi yang menyeimbangkan kehidupan modern dengan pesona Italia klasik.

8. Istanbul, Turki

Pahlawan Sastra yaitu  Orhan Pamuk dengan Karya Terkenal: “Snow” dan “The Museum of Innocence” terbitan Faber dan Faber. Juga Objek Wisata Wajib: Museum of Innocence, The Blue Mosque, Museum Hagia Sophia

Wisata Literatur Dunia 1

Pamuk dianugerahi Penghargaan Nobel Kesusastraan tahun 2006 dan juga memegang prestise sebagai orang Turki pertama yang menerima Nobel. Kisah-kisahnya banyak didasarkan pada budaya dan juga politik Turki. Dia juga mendirikan Museum of Innocence sebagaimana yang dia gambarkan dalam novelnya. Untuk mengalami masa berlibur di Turki yang benar-benar menyenangkan, menginaplah di Fer Hotel.

9. Dubai, Uni Emirat Arab

Pahlawan Sastra yaitu Mohammad Al-Murr dengan Karya Terkenal: “Dubai Tales” dan “The Wink of the Mona Lisa” terbitan Motivate Publishing Dan Objek Wisata Wajib: Burj Khalifa, Palm Jumeirah

Lahir di Dubai, penulis cerita pendek pemenang penghargaan Mohammad Al-Murr sudah menerbitkan lebih dari 10 koleksi cerita pendeknya. Sesuai dengan judulnya, “Dubai Tales” ialah kompilasi cerita yang mengisahkan liku kehidupan di Dubai, yaitu percampuran antara pemikiran modern dan kebanggaan yang kuat terhadap tradisi. Apartemen dengan dua kamar tidur yang cantik di The Residences by Emaar juga menawarkan pemandangan megah Burj Khalifa, gedung pencakar langit setinggi 2.700 kaki, dan akan menjadi pilihan akomodasi yang sempurna saat Anda berada di Dubai.

Inilah Pertunjukan Literatur Yang Terdapat di India

Inilah Pertunjukan Literatur Yang Terdapat di India – Festival Sastra Jaipur, atau JLF, adalah festival sastra tahunan yang berlangsung di kota India Jaipur setiap bulan Januari. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2006. Ini adalah festival sastra gratis terbesar di dunia.

The Diggi Palace Hotel berfungsi sebagai tempat utama festival, dengan sesi yang diadakan di Hall of Audience dan di seluruh taman Istana Diggi di pusat kota. sbobet88

Sutradara festival adalah penulis Namita Gokhale dan William Dalrymple dan diproduksi oleh Sanjoy Roy dari Teamwork Arts. Surina Narula adalah Pendiri Sponsor dan Penasihat Festival untuk festival sastra. Festival ini adalah Inisiatif dari Jaipur Virasat Foundation (JVF) yang didirikan oleh Faith Singh, yang awalnya sebagai bagian dari Jaipur Heritage International Festival pada tahun 2006, dan berkembang menjadi festival sastra berdiri bebas yang berdiri di atas kakinya sendiri di 2008. Direktur Komunitas JVF Vinod Joshi adalah penasihat regionalnya. Semua acara di festival ini gratis dan tidak ditilang.

Pada 2012, sejumlah peristiwa terjadi terkait dengan kontroversi Salman Rushdie dan Satanic Verses.

Sejumlah acara yang dibuat oleh penyelenggara JLF, secara longgar bernama JLF International, telah berlangsung di kota-kota lain di seluruh dunia

Ada pemandangan yang tak biasa di kota Jaipur, Ibu kota Negara Bagian Rajasthan, India, yang terkenal dengan julukan Pink City of India. Bukan tanpa alasan, pasalnya sejak tanggal 23 Januari sampai dengan 27 Januari 2020, berlangsung perhelatan literatur akbar Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020.

Pertunjukan Literatur di India

Kendati pengunjung harus menghabiskan dana sekitar 300 rupees (sekitar Rp60.000) untuk 1 tiket masuk, antrean Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 tetap membludak dari hari pertama hingga berakhirnya festival.

Berdasarkan keterangan KBRI New Delhi, belum lama ini, acara diselenggarakan di hotel Diggi Palace Hotel di jantung kota Jaipur. Hotel tersebut adalah sebuah bangunan bersejarah peninggalan abad ke-18. Arsitektur Diggi Hotel yang bernuansa klasik Rajasthan dengan paduan warna-warni ukiran unik merefleksikan kedalaman nilai-nilai sejarah dan budaya lokal semakin menambah euforia kemeriahan Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020.

Sejak hari pertama, ribuan pengunjung — yang tidak hanya berasal dari India — datang silih berganti memadati area Diggi Palace Hotel yang luasnya hampir 8 hektare.

Tidak hanya menjadi yang terbesar di wilayah Asia Selatan, Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 juga menjadi salah satu festival yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya oleh pecinta litaratur dari berbagai belahan dunia. Sekitar 300 narasumber dari dalam dan luar negeri dihadirkan dalam festival ini. Jaipur Literature Festival bahkan disebut-sebut sebagai “The Greatest Literary Show on Earth.”

Jaipur Literatur Festival (JLF) tahun ini merupakan yang ke 13 sejak kali pertama diselenggarakan pada tahun 2006. Panitia acara ini sudah dibentuk setahun sebelumnya.

Menariknya, pengunjung Jaipur Literature Festival (JLF) 2020 justru didominasi kaum muda, baik dari India maupun yang datang dari Asia dan jga Eropa. Tren Ini menunjukkan bahwa ada pergeseran ke arah positif bahwa kaum milenial saat ini menaruh perhatian tinggi dalam upaya revitalisasi dan modernisasi dunia literatur yang sejalan dengan perkembangan global.

Diselenggarakan oleh organisasi non-profit yang menamakan diri Team Work Arts, Jaipur Literatur Festival (JLF) adalah platform literatur terbesar di India yang mempertemukan para tokoh dan pemikir, penyair, penulis lintas generasi, jurnalis, filsuf, novelis, penerbit buku, musisi dan juga ribuan pecinta literatur baik fiksi maupun non-fiksi. Para tokoh ini, datang dari India dan juga luar negeri, bertemu untuk berdiskusi, bertukar informasi, ide dan pengetahuan demi kepentingan eksistensi dan kemajuan literatur global, inklusif dan integral dengan arus kemajuan teknologi masa kini.

Team Work Arts sebagai pihak penyelenggara melibatkan relawan yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa dari berbagai universitas di India. Hal tersebut dimaksudkan sebagai media edukasi dan kesempatan untuk memperoleh pengalaman berharga dalam penyelenggaraan acara berskala internasional. Menariknya lagi, semua relawan menggunakan rompi khas Pandit Jawaharlal Nehru berwarna kuning muda itu bertuliskan “May I Help You,” sebuah kalimat sederhana namun menggambarkan antusiasme penyelenggara untuk membantu para pengunjung yang hadir.

Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 menghadirkan narasumber ternama seperti Anand Girigharadas dan Shoba De yang memaparkan topik mengenai urban life, Nobel Laurate Abhijit Banerjee, Makarand Sathe membahas tema Marathi Theatre, jurnalis Ravish Kumar dan Madhur Jaffrey dan tokoh-tokoh penting lainnya, seperti David Wallace yang merupakan sang penulis “The Uninhabitable Earth”, Martin Goodman dan James Thornton yang merupakan penulis buku “Client Earth,” untuk sesi pembahasan mengenai perubahan iklim, polusi dan lingkungan.

Untuk sesi karya literatur fiksi, panitia mendatangkan penulis seperti Leila Slimani, Avni Doshi, Elizabeth Gilbert, John Lancerter dan Howard Jacobson. Tidak ketinggalan, Jaipur Literatur Festival (JLF) juga menghadirkan peneliti dan pakar literatur seperti Stephen Greeblat dan Peter Frankopan, dan beberapa jurnalis ternama, seperti Christina Lamb, Katherine Eban, dan Dexter Filkins, serta biografer Jung Chang dan Benjamin Moser.

Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 juga menghadirkan Jaipur Book Mark sebagai acara samping yang menjadi landasan interaksi para pebisnis industri perbukuan dari berbagai negara seperti penerbit, agen literatur, penulis, penterjemah, agen-agen penterjemah serta penjual buku.

Jaipur Book Mark tidak hanya berbicara seputar bisnis pada sesi-sesi yang relevan dan diskusi roundtable, tapi juga menyediakan atmosfer dan ruang strategis melalui one-on-one meeting yang diharapkan dapat menciptakan kerjasama potensial melalui penandatanganan kesepakatan bisnis di bidang industri perbukuan. Sebagian dari buku-buku yang dibahas pada Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 juga bisa dibeli pada Jaipur Book Mark, yang lokasinya juga di Diggi Palace Hotel.

Menurut Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI New Delhi, Lestyani Yunarsih, yang berkunjung ke Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 di Jaipur bersama Kabag Penilaian dan Pengawasan Buku dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud RI, Supriyatno, JLF adalah ajang literatur global yang sangat strategis untuk diikuti, mengingat banyaknya narasumber papan atas dan kapasitas kegiatan yang sangat besar dengan jumlah pengunjung mencapai 60.000 orang.

Pertunjukan Literatur di India 1

KBRI New Delhi merekomendasikan keikutsertaan Indonesia pada Jaipur Literatur Festival (JLF) mendatang dengan mengusulkan para literer ternama Indonesia untuk menjadi salah satu narasumber di ajang tersebut. Penjajakan partisipasi Indonesia pada Jaipur Literatur Festival (JLF) mendatang sudah dilakukan melalui komunikasi langsung dengan pihak Team Work Arts. Rencana tersebut mendapat tanggapan positif dari pihak panitia dan mengharapkan rekomendasi nama-nama dapat dikirimkan pada akhir bulan Februari 2020.

Ajang Jaipur Literatur Festival (JLF), menurut salah satu ahli literatur Indonesia yang bernama Prof. Dr. Djoko Saryono yang adalah guru besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, dapat dijadikan kesempatan untuk menduniakan sastra Indonesia melalui keikutsertaan dalam acara internasional.

Selain itu, Jaipur Literatur Festival (JLF) juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan jaringan oleh tokoh Indonesia dengan para penulis internasional dan tokoh-tokoh lainnya dalam rangka revitalisasi dan penguatan hubungan Indonesia dan India khususnya, seperti yang pernah terjalin pada masa lampau.

Inilah Buku Tertua Yang Terdapat di Dunia

Inilah Buku Tertua Yang Terdapat di Dunia – Buku ialah sebuah objek fisik dan kumpulan yang bertindak sebagai sistem pencarian suatu informasi. Ia harus dibaca, sebab informasi di dalamnya harus bisa diterima dan dimengerti.

Menurut Kurniasih. Buku ialah buah pikiran yang berisi mengenai ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum secara tertulis. Buku disusun memakai bahasa yang sederhana, menarik, dan dilengkapi gambar serta daftar pustaka.

Penulisan dan sastra dianggap sudah berkembang pertama kali antara milenium ke-7 dan ke-4 SM. Sejak awal penulisannya, berbagai bahan yang luar biasa telah digunakan untuk merekam teks, termasuk tanah liat, sutra, tembikar, papirus, bahkan peti mati. Bayangkan, peti mati bahkan dijadikan kanvas sastra pada zaman dulu kala. slot88

Buku-buku yang dibuat pada zaman dulu pun bahannya tidak semuanya dari kertas, bahkan ada yang dari emas murni! Memang tidak semuanya bertahan sampai saat ini, namun di bawah ini merupakan beberapa di antara buku-buku kuno yang tidak termakan zaman sehingga kita masih bisa melihat keberadaannya pada saat ini. Apa saja buku-buku itu? Yuk kita simak daftarnya.

1. Etruscan Gold Book. Perkiraan umur, 2.673 tahun.

Dianggap sebagai buku multi-halaman tertua di dunia yang berasal dari sekitar tahun 660 SM, Etruscan Gold Book ditemukan 70 tahun yang lalu ketika sedang berlangsung penggalian kanal di Sungai Strouma di Bulgaria. Buku Etruscan Gold Book ini terbuat dari 6 lembar emas 24 karat yang diikat dengan cincin. Pelat ini ditulis di dalam karakter Etruscan, dan yang tergambar di situ antara ialah lain kuda, penunggang kuda, seorang Siren atau duyung, kecapi, dan juga tentara.

Buku Tertua Yang Ada di Dunia

Buku Etruscan Gold Book ini disumbangkan ke Museum Sejarah Nasional Bulgaria di Sofia oleh seorang yang berusia 87 tahun yang meminta untuk tidak disebut namanya alias anonim. Etruria ialah orang-orang ras kuno yang bermigrasi dari Lydia (yang sekarang menjadi Turki modern) yang bermukim di Italia tengah hampir 3 ribu tahun yang lalu.

2. Pyrgi Gold Tablets. Perkiraan umur, 2.513 tahun.

Ditemukan pada tahun 1964 dalam penggalian tempat perlindungan di Pyrgi kuno, Italia, tiga lempengan emas tersebut berasal dari tahun 500 SM. Mempunyai lubang di tepinya, para ilmuwan juga berpikir bahwa lempengan-lempengan tersebut pernah terikat menjadi satu. Dua ditulis dalam teks Etruscan, dengan satu ditulis dalam Fenisia yang berisikan mengenai dedikasi dari Raja Thefarie Velianas kepada dewi Fenisia Astarte. Pelat tersebut sekarang ditampilkan di Museum Etruska Nasional di Roma, Italia.

3. Nag Hammadi Library. Perkiraan umur, 1.693 tahun.

Dianggap sebagai beberapa buku terikat tertua yang masih ada, 13 kodeks kulit papyrus yang terikat ini ditemukan terkubur di dalam toples yang tertutup pada tahun 1945, oleh seorang lelaki setempat yang ada di kota Nag Hammadi di Mesir Hulu. Buku-buku yang berisikan mengenai teks-teks Gnostik ini berasal dari sekitar awal abad yang ke-4. Ditulis dalam bahasa Koptik, naskah-naskah tersebut dianggap sudah disalin dari bahasa Yunani. Kodeks Nag Hammadi pada saat ini ditemukan di Museum Koptik di Kairo, Mesir.

4. St. Cuthbert Gospel. Perkiraan umur, 1.315 tahun.

Buku utuh tertua yang diketahui yang ada di Eropa ialah St Cuthbert Gospel, dibeli oleh British Library pada tahun 2012 dengan harga 9 juta pound sebagai bagian dari kampanye penggalangan dana. Buku St. Cuthbert Gospel itu dimakamkan dengan St Cuthbert, seorang pemimpin Kristen Inggris awal, di Pulau Lindisfarne di lepas Northumberland, sekitar tahun 698 Masehi. Setelah selamat dari penaklukan Viking, buku tersebut dipindahkan ke Durham untuk menghindari perampok Viking lainnya. Buku tersebut ditemukan kembali pada tahun 1104 M dengan tulisan yang ditambahkan pada sampul bagian dalam.

5. Book of Kells, perkiraan umur, 1.213 tahun.

Kitab Kells disimpan di Perpustakaan Trinity College di Dublin, Irlandia, dan diperkirakan dibuat oleh para biarawan Celtic sekitar pada tahun 800 Masehi. Buku tersebut ialah manuskrip Injil yang penuh hiasan, ditulis dalam bahasa Latin, dan berisi empat Injil Perjanjian Baru.

6. Siddur, Jewish Prayer Book. Perkiraan umur, 1.173 tahun.

Ditemukan pada tahun 2013, penemuan besar ketiga pada tahun itu adalah ‘siddur’, sebuah buku doa Yahudi yang berasal dari tahun 840 Masehi. Perkamen yang masih lengkap, masih dalam ikatan aslinya, dan sudah sangat tua sehingga berisi bunyi vokal Babel ini mirip dengan Bahasa Inggris Lama atau Tengah untuk bahasa Inggris. Hal tersebut memungkinkan para ahli untuk memberi tanggal pada buku tersebut berdasarkan pada zaman para pemimpin Geonim, Babilonia dan Talmud selama Abad Pertengahan.

7. Diamond Sutra. Perkiraan umur, 1.145 tahun.

Sebuah teks suci Buddha yang adalah Diamond Sutra dianggap sebagai buku cetak bertanggal tertua yang ada di dunia. Ditemukan di sebuah gua bertembok di China bersama dengan bahan cetakan lainnya, buku ini terdiri dari karakter Cina yang dicetak pada gulungan kertas cetak abu-abu, yang dibungkus dengan sebuah tiang kayu. Buku tersebut disalin oleh seorang pria bernama Wong Jei, pada Mei 868 M, atas instruksi orang tuanya, yang dicatat di akhir teks di buku.

8. Celtic Psalter. Perkiraan umur, 938 tahun.

The Celtic Psalter yang digambarkan sebagai Book of Kells-nya Skotlandia. Buku Mazmur dengan ukuran saku ini ditempatkan di University of Edinburgh, di mana ia dipajang di depan umum pada tahun 2009 untuk pertama kalinya. Buku Celtic Psalter ini diperkirakan dibuat pada abad yang ke-11 M, menjadikannya sebagai buku yang tertua yang bertahan di Skotlandia. Kamu dapat melihat halaman-halaman Celtic Psalter pada situs web University of Edinburgh.

9. Gutenberg Bible. Perkiraan umur, 559 tahun.

Gutenberg Bible juga dikenal sebagai 42 line Bible, yang diakui oleh Guinness Book of World sebagai buku cetak mekanik tertua yang ada di dunia. Salinan pertamanya dicetak pada tahun 1454 sampai 1455 Masehi. Dicetak oleh Johannes Gutenberg, di Mainz, Jerman, buku Gutenberg Bible tersebut dianggap sebagai buku cetak tertua yang menggunakan jenis percetakan bergerak pada dunia Barat, walaupun di Cina ada contoh pencetakan buku berabad-abad sebelumnya, persis seperti Diamond Sutra. Terdapat 48 salinan asli yang diketahui keberadaannya, 21 di antaranya lengkap.

Buku Tertua Yang Ada di Dunia 1

10. Madrid Codex. Perkiraan umur, 494 tahun.

Ditemukan di Spanyol pada tahun 1860 an, Madrid Codex yang juga dikenal sebagai Tro-Cortesianus Codex ialah satu-satunya buku yang masih ada dan juga dikaitkan dengan budaya Maya pra-Kolombia sekitar 900 sampai 1521 Masehi. Kemungkinan besar diproduksi di Yucatán, buku Madrid Codex ini ditulis dalam karakter Yucatecan, sekelompok bahasa Maya yang mencakup Yucatec, Itza, Lacandon dan Mopan. Para ahli tak setuju pada tanggal yang tepat Madrid Codex dibuat, walaupun dikatakan oleh beberapa orang bahwa buku itu sudah dibuat sebelum penaklukan Spanyol pada abad ke-16. Madrid Codex pada saat ini ada di Museo de América di Madrid, Spanyol.

Literatur, Di Antara Anak Muda Yang Kritis

Literatur, Di Antara Anak Muda Yang Kritis – Apa yang dimaksud dengan literatur (literature)? Secara umum, pengertian literatur ialah segala karya tertulis yang dapat dijadikan rujukan atau acuan dalam berbagai kegiatan di bidang pendidikan dan bidang lainnnya karena dianggap memiliki keunggulan atau manfaat yang abadi.

Pendapat lain mengatakan bahwa arti literatur ialah segala sumber informasi yang bisa dijadikan referensi oleh penggunanya. Dengan kata lain, literatur tak harus berupa tulisan, akan tetapi bisa juga dalam bentuk film, rekaman, piringan hitam, laserdisc, dan benda lainnya yang dapat memberikan informasi bermanfaat. http://www.shortqtsyndrome.org/

Kelompok muda-mudi yang dianggap kritis bermunculan seiring dengan gelombang penerbitan buku-buku berhaluan progresif. Penerbit independen sehingga perpustakaan ruang terbuka digagas untuk memicu literasi alternatif.

Akan tetapi di tengah produksi buku nasional yang dinilai krisis, pemerintah bertekad untuk memusnahkan bacaan yang tidak sesuai dengan ideologi negara. Buku-buku itu disebut berpotensi dapat melahirkan kaum radikal dan komunis.

Handoko tenggelam dalam beragam judul buku pada saat menghadapi segala kerumitan hidup sebagai perantau di Jakarta pada tahun 2013. Usai lulus sekolah kejuruan di Yogyakarta, ia memutuskan untuk kuliah sembari menjadi buruh pabrik di pinggiran ibu kota.

Kewajiban membayar aneka biaya, dari iuran kampus sampai dengan ongkos hidup, bahkan ancaman pemecatan, mempertemukannya dengan solidaritas antar buruh.

Di serikat pekerja, Handoko merasa mendapat pertolongan yang pada awalnya ia anggap semestinya diberikan pemerintah.

Literatur, Antara Anak Muda Yang Kritis

“Saya berkumpul dengan beberapa kawan senasib, saling berkisah tentang pengalaman di PHK dan memperjuangkan pesangon.”

“Dari keluh kesah itu saya mempertanyakan keberadaan negara. Saya mulai mengenal pentingnya berserikat dan membaca,” ujarnya.

Pada saat ini Handoko bekerja sebagai pegawai di salah satu kementerian di Jakarta. Ia meminta nama aslinya tidak disebut karena khawatir komentar tentang perihal berstigma bakal mempersulit kariernya.

Lingkar pertemanan antar buruh, kata Handoko, tidak jauh dari buku-buku yang disebutnya progresif atau alternatif. Konten buku itu memuat tentang gagasan yang awam diberangus Orde Baru, dari sosialisme, komunisme, dan anarkisme.

Bacaan tersebut pula yang disebut Handoko bisa mempengaruhi pemikiran, pola tindaknya, dan juga pilihan-pilihan dalam kehidupan kesehariannya.

“Dengan membaca literatur dan juga realitas kehidupan, pemikiran saya yang lebih objektif, saya menjadi tak mudah dihasut.”

“Saya juga jadi tidak mempercayai manfaat negara. Yang berpengaruh justru solidaritas antarkawan. Rakyat membantu rakyat,” ujarnya.

Akan tetapi Handoko toh tidak serta merta mengklaim dirinya sebagai penyokong komunisme atau paham lain yang bahkan tidak boleh dipelajari oleh warga Indonesia. Dari membaca pula, Handoko dapat menilai setiap ideologi mempunyai kecacatan tersendiri.

“Buku Gombalnya Globalisasi yang adalah karya dari El Figson membuka pikiran saya bahwa negara yang berhaluan kiri yang memberi harapan keseteraan ternyata tidak benar-benar ada,” ucapnya.

Atas dasar ketertiban dan juga ketenteraman, Kejaksaan Agung berencana membentuk satuan tugas khusus pengawasan buku. Wacana tersebut didasarkan pada Pasal 69 UU 3/2017 mengenai sistem perbukuan yang memberi mereka kewenangan untuk melakukan itu.

Pembentukan satgas ini direncanakan sesudah razia buku oleh personel gabungan terdiri dari jaksa, polisi, dan juga tentara di berbagai daerah dalam beberapa tahun terakhir.

Akan tetapi juru bicara Kejagung yang bernama Mukri, mengklaim bahwa pengawasan buku oleh satgas ini bakal bergulir dalam sistem penilaian yang berimbang.

“Tidak hanya buku kiri, tapi juga radikalisme, misalnya aliran yang dilarang undang-undang,” ujar Mukri saat dihubungi beberapa waktu lalu.

“Ini pengamanan, bukan penyitaan, sebab konsep tersebut berdasarkan putusan dari MK harus melalui proses pengadilan.”

“Kami mengamankan lalu meneliti substansi buku. Kami menyerahkan ke ahli, kalau ternyata menyangkut komunisme atau anti-Pancasila, akan kami musnahkan. Akan tetapi kalau ada yang mencakup unsur pidana, kami akan serahkan ke Polri,” kata Mukri.

Sebelum satgas kejaksaan efektif bekerja, razia buku alternatif memaksa gerakan literasi akar rumput untuk berpikir dua kali untuk membahas atau untuk memajang bacaan nonarus utama.

Berbagai razia tersebut dinilai intimidatif dan juga dilakukan tanpa penilaian bahkan proses pengadilan.

Rio yang adalah pegiat perpustakaan jalanan di Kebayoran, Jakarta, saat ini bersiasat agar gerakan literasinya terus berlangsung tanpa meninggalkan semangat kritis.

“Kami belajar dari kawan-kawan yang bukunya dirazia. Kami ada buku yang isinya alternatif, sekarang itu kami simpan dulu,” ujar Rio.

“Kami menampilkan buku yang umum, supaya publik akan terbiasa berliterasi. Kalau mereka ingin membaca buku tersebut, kami bersedia meminjamkan.”

“Intinya jangan sampai buku-buku tersebut bisa membuat umur perpustakaan kami tak panjang,” ucapnya.

Setiap sore akhir pekan, Rio dan juga beberapa kawannya memajang puluhan buku di atas halaman taman publik Jakarta Selatan. Mereka menamakan lapak itu Bear Garden supaya seluruh kalangan tak sungkan mampir dan membaca.

Inisiatif membuka perpustakaan jalanan ini muncul di berbagai kota. Seluruhnya swadaya, nonprofit, dan juga digerakkan muda-mudi.

“Fokus kami ke buku anak-anak, puisi, novel, dan juga cerpen. Ada juga buku progresif, tetapi kami pilah sebab negara kita masih fobia simbol, sensitif pada buku kemerah-merahan,” ujar Rio.

Akan tetapi perlukah kita membaca dalam pengawasan dan kekhawatiran tentang stigma dan razia?

Menurut pengelola penerbit Marjin Kiri yang bernama Pradewi Tri Chatami, seluruh aktivitas terkait buku semestinya berlangsung ekspresif tanpa kekangan, termasuk di dalam proses penerbitannya.

Pradewi Tri Chatami berkata bahwa stereotip dan pembatasan bacaan di Indonesia terus ada meski produksi buku yang rendah dan tidak sebanding dengan jumlah penduduk.

Literatur, Antara Anak Muda Yang Kritis 1

Marjin Kiri adalah penerbit buku alternatif yang berbasis di Jakarta. Buku-buku mereka antara lain adalah Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan, Di Balik Marx: Sosok dan Pemikiran Freiderich Engles, sehingga Kekerasan dan Identitas.

“Kondisi perbukuan yang ada di Indonesia masih jauh dari kata bagus, ada razia padahal produksi buku tak seberapa,” tuturnya.

Merujuk sensus Perpustakaan Nasional Republik Indonesia setiap tahun produksi buku di Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 265 juta jiwa, rata-rata tak lebih dari 60.000 judul. Sementara dalam data Ikatan Penerbit Indonesia, angkanya berkisar antara 40.000 sampai dengan 45.000.

Bandingkan dengan Inggris, dengan penduduk 66 juta jiwa, pada tahun 2013 menerbitkan 184.000 buku atau Islandia yang sempat mengalami ‘ledakan buku’ di mana perbandingan buku baru dan jumlah warga mencapai 1:10.

Di tengah jumlah buku yang minim, Pradewi menyebutkan bahwa lembaganya berniat untuk menghadirkan alternatif bacaan bagi publik, terutama kalangan akademisi, mahasiswa, dan juga pelajar. Sayangnya, upaya tersebut berhadapan dengan pengawasan ketat pemerintah yang disebutnya tidak seharusnya ada.

“Sumber bacaan sangat luas. Orang seharusnya dibebaskan untuk memilih bacaan mereka, mau yang populer atau kiri. Biarkan anak muda untuk menentukan apa yang paling pas untuk mereka.”

“Saya tak mengerti mengapa aparat selalu mencurigai buku kiri, padahal terdapat buku Mein Kampf yang justru mendorong fasisme, ada buku Islam garis keras yang mengajak jihad dengan cara kekerasan.”

“Penyebaran buku mereka lebih masif dibandingkan kami. Tetapi itu tak pernah menjadi perhatian aparat. Apakah mereka dilindungi, saya tidak tahu?” tanya Pradewi.