Inilah Pertunjukan Literatur Yang Terdapat di India

Inilah Pertunjukan Literatur Yang Terdapat di India – Festival Sastra Jaipur, atau JLF, adalah festival sastra tahunan yang berlangsung di kota India Jaipur setiap bulan Januari. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2006. Ini adalah festival sastra gratis terbesar di dunia.

The Diggi Palace Hotel berfungsi sebagai tempat utama festival, dengan sesi yang diadakan di Hall of Audience dan di seluruh taman Istana Diggi di pusat kota. sbobet88

Sutradara festival adalah penulis Namita Gokhale dan William Dalrymple dan diproduksi oleh Sanjoy Roy dari Teamwork Arts. Surina Narula adalah Pendiri Sponsor dan Penasihat Festival untuk festival sastra. Festival ini adalah Inisiatif dari Jaipur Virasat Foundation (JVF) yang didirikan oleh Faith Singh, yang awalnya sebagai bagian dari Jaipur Heritage International Festival pada tahun 2006, dan berkembang menjadi festival sastra berdiri bebas yang berdiri di atas kakinya sendiri di 2008. Direktur Komunitas JVF Vinod Joshi adalah penasihat regionalnya. Semua acara di festival ini gratis dan tidak ditilang.

Pada 2012, sejumlah peristiwa terjadi terkait dengan kontroversi Salman Rushdie dan Satanic Verses.

Sejumlah acara yang dibuat oleh penyelenggara JLF, secara longgar bernama JLF International, telah berlangsung di kota-kota lain di seluruh dunia

Ada pemandangan yang tak biasa di kota Jaipur, Ibu kota Negara Bagian Rajasthan, India, yang terkenal dengan julukan Pink City of India. Bukan tanpa alasan, pasalnya sejak tanggal 23 Januari sampai dengan 27 Januari 2020, berlangsung perhelatan literatur akbar Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020.

Pertunjukan Literatur di India

Kendati pengunjung harus menghabiskan dana sekitar 300 rupees (sekitar Rp60.000) untuk 1 tiket masuk, antrean Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 tetap membludak dari hari pertama hingga berakhirnya festival.

Berdasarkan keterangan KBRI New Delhi, belum lama ini, acara diselenggarakan di hotel Diggi Palace Hotel di jantung kota Jaipur. Hotel tersebut adalah sebuah bangunan bersejarah peninggalan abad ke-18. Arsitektur Diggi Hotel yang bernuansa klasik Rajasthan dengan paduan warna-warni ukiran unik merefleksikan kedalaman nilai-nilai sejarah dan budaya lokal semakin menambah euforia kemeriahan Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020.

Sejak hari pertama, ribuan pengunjung — yang tidak hanya berasal dari India — datang silih berganti memadati area Diggi Palace Hotel yang luasnya hampir 8 hektare.

Tidak hanya menjadi yang terbesar di wilayah Asia Selatan, Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 juga menjadi salah satu festival yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya oleh pecinta litaratur dari berbagai belahan dunia. Sekitar 300 narasumber dari dalam dan luar negeri dihadirkan dalam festival ini. Jaipur Literature Festival bahkan disebut-sebut sebagai “The Greatest Literary Show on Earth.”

Jaipur Literatur Festival (JLF) tahun ini merupakan yang ke 13 sejak kali pertama diselenggarakan pada tahun 2006. Panitia acara ini sudah dibentuk setahun sebelumnya.

Menariknya, pengunjung Jaipur Literature Festival (JLF) 2020 justru didominasi kaum muda, baik dari India maupun yang datang dari Asia dan jga Eropa. Tren Ini menunjukkan bahwa ada pergeseran ke arah positif bahwa kaum milenial saat ini menaruh perhatian tinggi dalam upaya revitalisasi dan modernisasi dunia literatur yang sejalan dengan perkembangan global.

Diselenggarakan oleh organisasi non-profit yang menamakan diri Team Work Arts, Jaipur Literatur Festival (JLF) adalah platform literatur terbesar di India yang mempertemukan para tokoh dan pemikir, penyair, penulis lintas generasi, jurnalis, filsuf, novelis, penerbit buku, musisi dan juga ribuan pecinta literatur baik fiksi maupun non-fiksi. Para tokoh ini, datang dari India dan juga luar negeri, bertemu untuk berdiskusi, bertukar informasi, ide dan pengetahuan demi kepentingan eksistensi dan kemajuan literatur global, inklusif dan integral dengan arus kemajuan teknologi masa kini.

Team Work Arts sebagai pihak penyelenggara melibatkan relawan yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa dari berbagai universitas di India. Hal tersebut dimaksudkan sebagai media edukasi dan kesempatan untuk memperoleh pengalaman berharga dalam penyelenggaraan acara berskala internasional. Menariknya lagi, semua relawan menggunakan rompi khas Pandit Jawaharlal Nehru berwarna kuning muda itu bertuliskan “May I Help You,” sebuah kalimat sederhana namun menggambarkan antusiasme penyelenggara untuk membantu para pengunjung yang hadir.

Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 menghadirkan narasumber ternama seperti Anand Girigharadas dan Shoba De yang memaparkan topik mengenai urban life, Nobel Laurate Abhijit Banerjee, Makarand Sathe membahas tema Marathi Theatre, jurnalis Ravish Kumar dan Madhur Jaffrey dan tokoh-tokoh penting lainnya, seperti David Wallace yang merupakan sang penulis “The Uninhabitable Earth”, Martin Goodman dan James Thornton yang merupakan penulis buku “Client Earth,” untuk sesi pembahasan mengenai perubahan iklim, polusi dan lingkungan.

Untuk sesi karya literatur fiksi, panitia mendatangkan penulis seperti Leila Slimani, Avni Doshi, Elizabeth Gilbert, John Lancerter dan Howard Jacobson. Tidak ketinggalan, Jaipur Literatur Festival (JLF) juga menghadirkan peneliti dan pakar literatur seperti Stephen Greeblat dan Peter Frankopan, dan beberapa jurnalis ternama, seperti Christina Lamb, Katherine Eban, dan Dexter Filkins, serta biografer Jung Chang dan Benjamin Moser.

Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 juga menghadirkan Jaipur Book Mark sebagai acara samping yang menjadi landasan interaksi para pebisnis industri perbukuan dari berbagai negara seperti penerbit, agen literatur, penulis, penterjemah, agen-agen penterjemah serta penjual buku.

Jaipur Book Mark tidak hanya berbicara seputar bisnis pada sesi-sesi yang relevan dan diskusi roundtable, tapi juga menyediakan atmosfer dan ruang strategis melalui one-on-one meeting yang diharapkan dapat menciptakan kerjasama potensial melalui penandatanganan kesepakatan bisnis di bidang industri perbukuan. Sebagian dari buku-buku yang dibahas pada Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 juga bisa dibeli pada Jaipur Book Mark, yang lokasinya juga di Diggi Palace Hotel.

Menurut Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI New Delhi, Lestyani Yunarsih, yang berkunjung ke Jaipur Literatur Festival (JLF) 2020 di Jaipur bersama Kabag Penilaian dan Pengawasan Buku dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud RI, Supriyatno, JLF adalah ajang literatur global yang sangat strategis untuk diikuti, mengingat banyaknya narasumber papan atas dan kapasitas kegiatan yang sangat besar dengan jumlah pengunjung mencapai 60.000 orang.

Pertunjukan Literatur di India 1

KBRI New Delhi merekomendasikan keikutsertaan Indonesia pada Jaipur Literatur Festival (JLF) mendatang dengan mengusulkan para literer ternama Indonesia untuk menjadi salah satu narasumber di ajang tersebut. Penjajakan partisipasi Indonesia pada Jaipur Literatur Festival (JLF) mendatang sudah dilakukan melalui komunikasi langsung dengan pihak Team Work Arts. Rencana tersebut mendapat tanggapan positif dari pihak panitia dan mengharapkan rekomendasi nama-nama dapat dikirimkan pada akhir bulan Februari 2020.

Ajang Jaipur Literatur Festival (JLF), menurut salah satu ahli literatur Indonesia yang bernama Prof. Dr. Djoko Saryono yang adalah guru besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, dapat dijadikan kesempatan untuk menduniakan sastra Indonesia melalui keikutsertaan dalam acara internasional.

Selain itu, Jaipur Literatur Festival (JLF) juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan jaringan oleh tokoh Indonesia dengan para penulis internasional dan tokoh-tokoh lainnya dalam rangka revitalisasi dan penguatan hubungan Indonesia dan India khususnya, seperti yang pernah terjalin pada masa lampau.

Inilah Buku Tertua Yang Terdapat di Dunia

Inilah Buku Tertua Yang Terdapat di Dunia – Buku ialah sebuah objek fisik dan kumpulan yang bertindak sebagai sistem pencarian suatu informasi. Ia harus dibaca, sebab informasi di dalamnya harus bisa diterima dan dimengerti.

Menurut Kurniasih. Buku ialah buah pikiran yang berisi mengenai ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum secara tertulis. Buku disusun memakai bahasa yang sederhana, menarik, dan dilengkapi gambar serta daftar pustaka.

Penulisan dan sastra dianggap sudah berkembang pertama kali antara milenium ke-7 dan ke-4 SM. Sejak awal penulisannya, berbagai bahan yang luar biasa telah digunakan untuk merekam teks, termasuk tanah liat, sutra, tembikar, papirus, bahkan peti mati. Bayangkan, peti mati bahkan dijadikan kanvas sastra pada zaman dulu kala. slot88

Buku-buku yang dibuat pada zaman dulu pun bahannya tidak semuanya dari kertas, bahkan ada yang dari emas murni! Memang tidak semuanya bertahan sampai saat ini, namun di bawah ini merupakan beberapa di antara buku-buku kuno yang tidak termakan zaman sehingga kita masih bisa melihat keberadaannya pada saat ini. Apa saja buku-buku itu? Yuk kita simak daftarnya.

1. Etruscan Gold Book. Perkiraan umur, 2.673 tahun.

Dianggap sebagai buku multi-halaman tertua di dunia yang berasal dari sekitar tahun 660 SM, Etruscan Gold Book ditemukan 70 tahun yang lalu ketika sedang berlangsung penggalian kanal di Sungai Strouma di Bulgaria. Buku Etruscan Gold Book ini terbuat dari 6 lembar emas 24 karat yang diikat dengan cincin. Pelat ini ditulis di dalam karakter Etruscan, dan yang tergambar di situ antara ialah lain kuda, penunggang kuda, seorang Siren atau duyung, kecapi, dan juga tentara.

Buku Tertua Yang Ada di Dunia

Buku Etruscan Gold Book ini disumbangkan ke Museum Sejarah Nasional Bulgaria di Sofia oleh seorang yang berusia 87 tahun yang meminta untuk tidak disebut namanya alias anonim. Etruria ialah orang-orang ras kuno yang bermigrasi dari Lydia (yang sekarang menjadi Turki modern) yang bermukim di Italia tengah hampir 3 ribu tahun yang lalu.

2. Pyrgi Gold Tablets. Perkiraan umur, 2.513 tahun.

Ditemukan pada tahun 1964 dalam penggalian tempat perlindungan di Pyrgi kuno, Italia, tiga lempengan emas tersebut berasal dari tahun 500 SM. Mempunyai lubang di tepinya, para ilmuwan juga berpikir bahwa lempengan-lempengan tersebut pernah terikat menjadi satu. Dua ditulis dalam teks Etruscan, dengan satu ditulis dalam Fenisia yang berisikan mengenai dedikasi dari Raja Thefarie Velianas kepada dewi Fenisia Astarte. Pelat tersebut sekarang ditampilkan di Museum Etruska Nasional di Roma, Italia.

3. Nag Hammadi Library. Perkiraan umur, 1.693 tahun.

Dianggap sebagai beberapa buku terikat tertua yang masih ada, 13 kodeks kulit papyrus yang terikat ini ditemukan terkubur di dalam toples yang tertutup pada tahun 1945, oleh seorang lelaki setempat yang ada di kota Nag Hammadi di Mesir Hulu. Buku-buku yang berisikan mengenai teks-teks Gnostik ini berasal dari sekitar awal abad yang ke-4. Ditulis dalam bahasa Koptik, naskah-naskah tersebut dianggap sudah disalin dari bahasa Yunani. Kodeks Nag Hammadi pada saat ini ditemukan di Museum Koptik di Kairo, Mesir.

4. St. Cuthbert Gospel. Perkiraan umur, 1.315 tahun.

Buku utuh tertua yang diketahui yang ada di Eropa ialah St Cuthbert Gospel, dibeli oleh British Library pada tahun 2012 dengan harga 9 juta pound sebagai bagian dari kampanye penggalangan dana. Buku St. Cuthbert Gospel itu dimakamkan dengan St Cuthbert, seorang pemimpin Kristen Inggris awal, di Pulau Lindisfarne di lepas Northumberland, sekitar tahun 698 Masehi. Setelah selamat dari penaklukan Viking, buku tersebut dipindahkan ke Durham untuk menghindari perampok Viking lainnya. Buku tersebut ditemukan kembali pada tahun 1104 M dengan tulisan yang ditambahkan pada sampul bagian dalam.

5. Book of Kells, perkiraan umur, 1.213 tahun.

Kitab Kells disimpan di Perpustakaan Trinity College di Dublin, Irlandia, dan diperkirakan dibuat oleh para biarawan Celtic sekitar pada tahun 800 Masehi. Buku tersebut ialah manuskrip Injil yang penuh hiasan, ditulis dalam bahasa Latin, dan berisi empat Injil Perjanjian Baru.

6. Siddur, Jewish Prayer Book. Perkiraan umur, 1.173 tahun.

Ditemukan pada tahun 2013, penemuan besar ketiga pada tahun itu adalah ‘siddur’, sebuah buku doa Yahudi yang berasal dari tahun 840 Masehi. Perkamen yang masih lengkap, masih dalam ikatan aslinya, dan sudah sangat tua sehingga berisi bunyi vokal Babel ini mirip dengan Bahasa Inggris Lama atau Tengah untuk bahasa Inggris. Hal tersebut memungkinkan para ahli untuk memberi tanggal pada buku tersebut berdasarkan pada zaman para pemimpin Geonim, Babilonia dan Talmud selama Abad Pertengahan.

7. Diamond Sutra. Perkiraan umur, 1.145 tahun.

Sebuah teks suci Buddha yang adalah Diamond Sutra dianggap sebagai buku cetak bertanggal tertua yang ada di dunia. Ditemukan di sebuah gua bertembok di China bersama dengan bahan cetakan lainnya, buku ini terdiri dari karakter Cina yang dicetak pada gulungan kertas cetak abu-abu, yang dibungkus dengan sebuah tiang kayu. Buku tersebut disalin oleh seorang pria bernama Wong Jei, pada Mei 868 M, atas instruksi orang tuanya, yang dicatat di akhir teks di buku.

8. Celtic Psalter. Perkiraan umur, 938 tahun.

The Celtic Psalter yang digambarkan sebagai Book of Kells-nya Skotlandia. Buku Mazmur dengan ukuran saku ini ditempatkan di University of Edinburgh, di mana ia dipajang di depan umum pada tahun 2009 untuk pertama kalinya. Buku Celtic Psalter ini diperkirakan dibuat pada abad yang ke-11 M, menjadikannya sebagai buku yang tertua yang bertahan di Skotlandia. Kamu dapat melihat halaman-halaman Celtic Psalter pada situs web University of Edinburgh.

9. Gutenberg Bible. Perkiraan umur, 559 tahun.

Gutenberg Bible juga dikenal sebagai 42 line Bible, yang diakui oleh Guinness Book of World sebagai buku cetak mekanik tertua yang ada di dunia. Salinan pertamanya dicetak pada tahun 1454 sampai 1455 Masehi. Dicetak oleh Johannes Gutenberg, di Mainz, Jerman, buku Gutenberg Bible tersebut dianggap sebagai buku cetak tertua yang menggunakan jenis percetakan bergerak pada dunia Barat, walaupun di Cina ada contoh pencetakan buku berabad-abad sebelumnya, persis seperti Diamond Sutra. Terdapat 48 salinan asli yang diketahui keberadaannya, 21 di antaranya lengkap.

Buku Tertua Yang Ada di Dunia 1

10. Madrid Codex. Perkiraan umur, 494 tahun.

Ditemukan di Spanyol pada tahun 1860 an, Madrid Codex yang juga dikenal sebagai Tro-Cortesianus Codex ialah satu-satunya buku yang masih ada dan juga dikaitkan dengan budaya Maya pra-Kolombia sekitar 900 sampai 1521 Masehi. Kemungkinan besar diproduksi di Yucatán, buku Madrid Codex ini ditulis dalam karakter Yucatecan, sekelompok bahasa Maya yang mencakup Yucatec, Itza, Lacandon dan Mopan. Para ahli tak setuju pada tanggal yang tepat Madrid Codex dibuat, walaupun dikatakan oleh beberapa orang bahwa buku itu sudah dibuat sebelum penaklukan Spanyol pada abad ke-16. Madrid Codex pada saat ini ada di Museo de América di Madrid, Spanyol.

Literatur, Di Antara Anak Muda Yang Kritis

Literatur, Di Antara Anak Muda Yang Kritis – Apa yang dimaksud dengan literatur (literature)? Secara umum, pengertian literatur ialah segala karya tertulis yang dapat dijadikan rujukan atau acuan dalam berbagai kegiatan di bidang pendidikan dan bidang lainnnya karena dianggap memiliki keunggulan atau manfaat yang abadi.

Pendapat lain mengatakan bahwa arti literatur ialah segala sumber informasi yang bisa dijadikan referensi oleh penggunanya. Dengan kata lain, literatur tak harus berupa tulisan, akan tetapi bisa juga dalam bentuk film, rekaman, piringan hitam, laserdisc, dan benda lainnya yang dapat memberikan informasi bermanfaat. http://www.shortqtsyndrome.org/

Kelompok muda-mudi yang dianggap kritis bermunculan seiring dengan gelombang penerbitan buku-buku berhaluan progresif. Penerbit independen sehingga perpustakaan ruang terbuka digagas untuk memicu literasi alternatif.

Akan tetapi di tengah produksi buku nasional yang dinilai krisis, pemerintah bertekad untuk memusnahkan bacaan yang tidak sesuai dengan ideologi negara. Buku-buku itu disebut berpotensi dapat melahirkan kaum radikal dan komunis.

Handoko tenggelam dalam beragam judul buku pada saat menghadapi segala kerumitan hidup sebagai perantau di Jakarta pada tahun 2013. Usai lulus sekolah kejuruan di Yogyakarta, ia memutuskan untuk kuliah sembari menjadi buruh pabrik di pinggiran ibu kota.

Kewajiban membayar aneka biaya, dari iuran kampus sampai dengan ongkos hidup, bahkan ancaman pemecatan, mempertemukannya dengan solidaritas antar buruh.

Di serikat pekerja, Handoko merasa mendapat pertolongan yang pada awalnya ia anggap semestinya diberikan pemerintah.

Literatur, Antara Anak Muda Yang Kritis

“Saya berkumpul dengan beberapa kawan senasib, saling berkisah tentang pengalaman di PHK dan memperjuangkan pesangon.”

“Dari keluh kesah itu saya mempertanyakan keberadaan negara. Saya mulai mengenal pentingnya berserikat dan membaca,” ujarnya.

Pada saat ini Handoko bekerja sebagai pegawai di salah satu kementerian di Jakarta. Ia meminta nama aslinya tidak disebut karena khawatir komentar tentang perihal berstigma bakal mempersulit kariernya.

Lingkar pertemanan antar buruh, kata Handoko, tidak jauh dari buku-buku yang disebutnya progresif atau alternatif. Konten buku itu memuat tentang gagasan yang awam diberangus Orde Baru, dari sosialisme, komunisme, dan anarkisme.

Bacaan tersebut pula yang disebut Handoko bisa mempengaruhi pemikiran, pola tindaknya, dan juga pilihan-pilihan dalam kehidupan kesehariannya.

“Dengan membaca literatur dan juga realitas kehidupan, pemikiran saya yang lebih objektif, saya menjadi tak mudah dihasut.”

“Saya juga jadi tidak mempercayai manfaat negara. Yang berpengaruh justru solidaritas antarkawan. Rakyat membantu rakyat,” ujarnya.

Akan tetapi Handoko toh tidak serta merta mengklaim dirinya sebagai penyokong komunisme atau paham lain yang bahkan tidak boleh dipelajari oleh warga Indonesia. Dari membaca pula, Handoko dapat menilai setiap ideologi mempunyai kecacatan tersendiri.

“Buku Gombalnya Globalisasi yang adalah karya dari El Figson membuka pikiran saya bahwa negara yang berhaluan kiri yang memberi harapan keseteraan ternyata tidak benar-benar ada,” ucapnya.

Atas dasar ketertiban dan juga ketenteraman, Kejaksaan Agung berencana membentuk satuan tugas khusus pengawasan buku. Wacana tersebut didasarkan pada Pasal 69 UU 3/2017 mengenai sistem perbukuan yang memberi mereka kewenangan untuk melakukan itu.

Pembentukan satgas ini direncanakan sesudah razia buku oleh personel gabungan terdiri dari jaksa, polisi, dan juga tentara di berbagai daerah dalam beberapa tahun terakhir.

Akan tetapi juru bicara Kejagung yang bernama Mukri, mengklaim bahwa pengawasan buku oleh satgas ini bakal bergulir dalam sistem penilaian yang berimbang.

“Tidak hanya buku kiri, tapi juga radikalisme, misalnya aliran yang dilarang undang-undang,” ujar Mukri saat dihubungi beberapa waktu lalu.

“Ini pengamanan, bukan penyitaan, sebab konsep tersebut berdasarkan putusan dari MK harus melalui proses pengadilan.”

“Kami mengamankan lalu meneliti substansi buku. Kami menyerahkan ke ahli, kalau ternyata menyangkut komunisme atau anti-Pancasila, akan kami musnahkan. Akan tetapi kalau ada yang mencakup unsur pidana, kami akan serahkan ke Polri,” kata Mukri.

Sebelum satgas kejaksaan efektif bekerja, razia buku alternatif memaksa gerakan literasi akar rumput untuk berpikir dua kali untuk membahas atau untuk memajang bacaan nonarus utama.

Berbagai razia tersebut dinilai intimidatif dan juga dilakukan tanpa penilaian bahkan proses pengadilan.

Rio yang adalah pegiat perpustakaan jalanan di Kebayoran, Jakarta, saat ini bersiasat agar gerakan literasinya terus berlangsung tanpa meninggalkan semangat kritis.

“Kami belajar dari kawan-kawan yang bukunya dirazia. Kami ada buku yang isinya alternatif, sekarang itu kami simpan dulu,” ujar Rio.

“Kami menampilkan buku yang umum, supaya publik akan terbiasa berliterasi. Kalau mereka ingin membaca buku tersebut, kami bersedia meminjamkan.”

“Intinya jangan sampai buku-buku tersebut bisa membuat umur perpustakaan kami tak panjang,” ucapnya.

Setiap sore akhir pekan, Rio dan juga beberapa kawannya memajang puluhan buku di atas halaman taman publik Jakarta Selatan. Mereka menamakan lapak itu Bear Garden supaya seluruh kalangan tak sungkan mampir dan membaca.

Inisiatif membuka perpustakaan jalanan ini muncul di berbagai kota. Seluruhnya swadaya, nonprofit, dan juga digerakkan muda-mudi.

“Fokus kami ke buku anak-anak, puisi, novel, dan juga cerpen. Ada juga buku progresif, tetapi kami pilah sebab negara kita masih fobia simbol, sensitif pada buku kemerah-merahan,” ujar Rio.

Akan tetapi perlukah kita membaca dalam pengawasan dan kekhawatiran tentang stigma dan razia?

Menurut pengelola penerbit Marjin Kiri yang bernama Pradewi Tri Chatami, seluruh aktivitas terkait buku semestinya berlangsung ekspresif tanpa kekangan, termasuk di dalam proses penerbitannya.

Pradewi Tri Chatami berkata bahwa stereotip dan pembatasan bacaan di Indonesia terus ada meski produksi buku yang rendah dan tidak sebanding dengan jumlah penduduk.

Literatur, Antara Anak Muda Yang Kritis 1

Marjin Kiri adalah penerbit buku alternatif yang berbasis di Jakarta. Buku-buku mereka antara lain adalah Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan, Di Balik Marx: Sosok dan Pemikiran Freiderich Engles, sehingga Kekerasan dan Identitas.

“Kondisi perbukuan yang ada di Indonesia masih jauh dari kata bagus, ada razia padahal produksi buku tak seberapa,” tuturnya.

Merujuk sensus Perpustakaan Nasional Republik Indonesia setiap tahun produksi buku di Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 265 juta jiwa, rata-rata tak lebih dari 60.000 judul. Sementara dalam data Ikatan Penerbit Indonesia, angkanya berkisar antara 40.000 sampai dengan 45.000.

Bandingkan dengan Inggris, dengan penduduk 66 juta jiwa, pada tahun 2013 menerbitkan 184.000 buku atau Islandia yang sempat mengalami ‘ledakan buku’ di mana perbandingan buku baru dan jumlah warga mencapai 1:10.

Di tengah jumlah buku yang minim, Pradewi menyebutkan bahwa lembaganya berniat untuk menghadirkan alternatif bacaan bagi publik, terutama kalangan akademisi, mahasiswa, dan juga pelajar. Sayangnya, upaya tersebut berhadapan dengan pengawasan ketat pemerintah yang disebutnya tidak seharusnya ada.

“Sumber bacaan sangat luas. Orang seharusnya dibebaskan untuk memilih bacaan mereka, mau yang populer atau kiri. Biarkan anak muda untuk menentukan apa yang paling pas untuk mereka.”

“Saya tak mengerti mengapa aparat selalu mencurigai buku kiri, padahal terdapat buku Mein Kampf yang justru mendorong fasisme, ada buku Islam garis keras yang mengajak jihad dengan cara kekerasan.”

“Penyebaran buku mereka lebih masif dibandingkan kami. Tetapi itu tak pernah menjadi perhatian aparat. Apakah mereka dilindungi, saya tidak tahu?” tanya Pradewi.