Literasi Museum Asia Afrika Dikembangkan Dari Masa Ke Masa

Literasi Museum Asia Afrika Dikembangkan Dari Masa Ke Masa – Saat ini, Indonesia masih memiliki tingkat literasi yang rendah. Berdasarkan penelitian ‘The World’s Most Literate Nations’ yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2016, tingkat literasi Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara. 

Meski begitu, penetrasi internet di Indonesia saat ini terbilang tinggi. Menurut Kepala Museum Konferensi Asia Afrika (KAA), Meinarti Fauzie, melihat fenomena tersebut, masyarakat Indonesia perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan internet tersebut secara bijak, salah satunya dengan penguasaan literasi. slot indonesia

“Ini kesempatan kita, dengan diadakannya acara-acara literasi kita bisa meningkatkan pemahaman dan penguasaan mengenai literasi. Sehingga, kita bisa memanfaatkan literasi ini untuk kepentingan yang lebih baik lagi,” ujar Mei di Museum KAA Bandung, Jumat (4/9).

Literasi Museum Asia Afrika Terus Dikembangkan Dari Masa Ke Masa

Sebuah acara literasi bertajuk ‘Pekan Literasi Asia Afrika (PLAA)’ pun dilaksanakan di Museum KAA Bandung pada 4-6 Oktober 2019. PLAA kali ini mengangkat tema ‘Literasi di Era Digital’. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai pentingnya penguasaan dan pemahaman literasi digital agar dapat mengimbangi cepatnya informasi yang tersebar secara digital.

“Kita ingin masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, mempunyai tingkat pemahaman dan penguasaan yang lebih untuk memanfaatkan kemampuan literasi di tengah kemajuan teknologi dan komunikasi yang berkembang begitu cepat. Dengan kemampuan literasi kita dapat memilah mana yang baik, mana yang enggak,” beber Mei.

Berkaitan dengan tema yang diangkat, PLAA bekerja sama pun dengan beberapa perpustakaan yang sudah berbasis digital. Di antaranya adalah Perpustakaan Nasional RI, Kedutaan Besar Jepang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat, Perpustakaan Diplomasi Luar Negeri, Perpustakaan Institut Teknologi Bandung, Perpustakaan Telkom University, Pusat Bahasa Mandarin Universitas Kristen Maranatha, IKAPI Jawa Barat, serta Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) Abiyoso Kementerian Sosial.

Para mitra kerja PLAA tersebut pun menampilkan berbagai kegiatan yang menarik bagi para pengunjung. Salah satunya BLBI Abiyoso Kementerian Sosial yang membuka sesi pembelajaran bahasa braille. Selain itu, pengunjung juga dapat memeriksa kadar hemoglobin dalam tubuhnya melalui aplikasi yang dibawa oleh Perpustakaan Telkom University. Perpustakaan Diplomasi Luar Negeri pun menyajikan berbagai kegiatan seperti kuis dan games.

Acara literasi ini tak hanya menyajikan pameran literasi dari mitra kerja PLAA, sebuah bazar buku dari delapan penerbit pun dapat dinikmati oleh pengunjung. Selain itu, beberapa diskusi buku, film, ataupun diskusi publik juga diselenggarakan selama kegiatan PLAA. Menariknya, salah satu diskusi tersebut mengangkat tema mengenai pemanfaatan teknologi bagi disabilitas. “Kita ingin menjangkau semua kalangan, ingin menjadi lebih inklusif,” tutur Mei.

Selain itu, sebuah kegiatan story telling pun diadakan pada Jumat (4/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh siswa dari 12 Sekolah Dasar (SD) di Bandung, termasuk siswa Sekolah Luar Biasa (SLB)-A Bandung dan dibantu oleh relawan dan edukator Museum KAA. Dalam kegiatan tersebut, para relawan mendongeng untuk para siswa. Kemudian, anak-anak tersebut mendongengkan kembali cerita yang telah didengarkannya. “Ini salah satu bentuk literasi yang mungkin paling populer, dari kecil kita sudah terbiasa,” ujar Mei.

Ke depannya, acara yang telah rutin diselenggarakan sejak tahun 2014 ini diharapkan dapat memiliki jangkauan yang lebih luas. “Kalau sekarang fokusnya lebih ke generasi muda, nanti untuk semua kalangan,” ungkap Mei. Selain itu, peserta yang ikut serta dalam pameran literasi PLAA berikutnya pun diharapkan dapat semakin meningkat kuantitasnya.

Literasi Museum Asia Afrika Terus Dikembangkan Dari Masa Ke Masa

Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) yang berada di kota Bandung sedang terus mengupayakan aksesibilitas untuk pengunjung difabel. Selain akses ramp, kini terdapat Braille Corner atau akrab disebut Pojok Braille.

Sejak lama tim pengelola gedung bersejarah ini telah membuka tempat untuk melakukan kegiatan bersama komunitas difabel. Selain menerima kunjungan wisata edukasi domestik dari setiap Sekolah Luar Biasa (SLB), perlahan museum Asia Afrika memberi ruang untuk kegiatan sosialisasi bertema inklusi.

Kegiatan edukasi yang khusus mengangkat topik isu difabel juga sering digelar. Kegiatan tersebut berdampak positif bagi internal pengelola museum yang terus berupaya memberikan fasilitas layanan aksesibilitas.

Sebab, setiap orang berhak mendapatkan pengetahuan secara langsung tentang sejarah dan perkembangan bangsanya. Tidak terkecuali masyarakat difabel secara universal yang ada di wilayah Bandung maupun luar kota lainnya, hingga masyarakat luar negeri.

Sudah merupakan sebuah kewajiban untuk pengayaan aksesibilitas. Sebagaimana amanah dari Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, akses layanan publik terus diupayakan untuk kenyamanan para pengunjung.

Dedi Mulyana, Kepala Teknis Pelestaria dan Dokumentasi Diplomasi Publik, Sabtu (8/9) mengatakan, MKAA sebagai ikon gedung cagar budaya bersejarah bagi negara-negara Asia Afrika. Pada perjalanannya sejak berlangsung KAA muncul Dasa Sila Bandung yang pada akhirnya membawa MKAA untuk terus memberikan ruang dan aksesibilitas kepada masyarakat difabel.

Dedi berharap dengan adanya aksesibilitas, masyarakat difabel terhindar dari diskriminasi layanan informasi pengetahuan, khususnya tentang sejarah lahirnya Konferensi Asia Afrika. Dia mengajak masyarakat difabel untuk tidak sungkan berkunjung baik perseorangan maupun rombongan datang ke museum.

Pojok Braille

Fasilitas terbaru yang disediakan oleh pihak museum KAA berupa braille corner ini merupakan hasil kerjasama dengan Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI) Abiyoso. Dalam acara Pekan Literasi V kemarin, keberadaan pojok braille tersebut lebih disosialisasikan lagi.

Seperti namanya braille corner ini dapat dijabarkan sebagai ruang khusus perpustakaan yang menyediakan buku bacaan bertuliskan hurup braille untuk difabel Netra. Ragam buku pengetahuan disajikan.

Uniknya, ruangan tempat pojok braille yang berada di samping ruang Audi Visual pun dapat menarik perhatian pengunjung. Bukan hanya dari kalangan difabel Netra saja, pengunjung nondifabel juga banyak yang tertarik mengenali buku-buku braille.

Menurut Ginanjar, selaku penanggung jawab kegiatan Pekan Literasi Mumeum Konferensi Asia Afrika, setiap pemandu di museum diminta turut mengenalkan fasilitas braille corner kepada seluruh pengunjung tanpa kecuali. Dengan kata lain, pojok braille yang kini ada di museum KAA tidak hanya diperuntukan bagi pengunjung difabel saja.

“Kami di bagian depan hanya menginformasikan terkait hal apa saja, ruangan apa saja dan fasilitas apa saja yang ada di museum KAA. Termasuk memperkenalkan adanya pojok braille. Selanjutnya lebih detail tentang pojok braille ini, kami serahkan pada pustawannya. Mereka yang akan mengedukasikan lebih detil tentang hurup braille dan bisa menjelaskan pada pengunjung baik dari umum maupun dari kalangan difabel sendiri,” papar Ginanjar mewakili pihak museum.

Selama pekan litersi berlangsung, pojok braille juga memberikan edukasi dengan memperlihatkan peralatan yang digunakan untuk menghasilkan hurup braille. Seperti alat tulis manual riglet lengkap dengan pen nya, mesin ketik hurup braille, juga selebaran tulisan abjad dan angka braille yang dapat dibawa pulang para pengunjung.

Rencana Fasilitas lainnya

Berbincang lebih lanjut, Solider mendapatkan bocoran terkait fasilitas lain yang sedang dipersiapkan oleh pihak museum konferensi Asia Afrika.

Seperti yang diharapkan Dedi Mulyana mewakili kepala museum. Museum konferensi Asia Afrika ingin akses untuk pengunjung masyarakat difabel tanpa memilah jenis kedifabelannya. Setelah akses ramp dan pojok braille disediakan, pihak museum juga terus merancang akses lain.

Akses lain yang dipersiapkan adalah akan dibuatkan audio pada sudut-sudut lain di museum untuk memudahkan difabel Netra. Audio tersebut dirancang untuk mendeskripsikan keadaan dan informasi yang tersedia di setiap ruang museum. Fungsinya, agar pengunjung Netra lebih dapat menyerap informasi audio tersebut sebagai info analisa pemikirannya. 

“Kami juga sedang merancang pembuatan informasi audio untuk muneum ini,” kata Ginanjar.

Sementara, teks tulisan serta gambar yang telah tersedia dapat dengan mudah dipahami dan dilihat oleh pengunjung difabel Tuli. Fasilitas berupa teks yang dapat diakses difabel Tuli akan ditambahkan pada bidang tertentu yang dirasa masih kurang.

Aksesibilitas Museum Asia Afrika Bandung yang terus disediakan bagi pengunjung difabel merupakan sebuah perwujudan dari lahirnya Dasa Sila Bandung. Mengakui keragaman masyarakat, bangsa dan negara. Termasuk masyarakat difabel di dalamnya. Serta memenuhi hak warga difabel yang telah tertuang dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2016. Yaitu dapat mengakses informasi dan sarana layanan publik.